Kampung Yang Ditempati Para Pewaris Sejarah Dari Gen Albino Sunda
Penduduk Kampung Ciburuy, Garut, dijuluki 'walanda sunda' akibat pigmen unik dari warisan genetik leluhur. Sayangnya, keunikan mereka justru sesekali mendatangkan diskriminasi dari warga lainnya. “Tone” kulit adalah jumlah melanin yang didapati secara genetik atau lapisan kulit terluar. Melanin, yang adalah polimer kompleks yang diproduksi oleh sel yang disebut melanosit, mengacu pada sekelompok pigmen coklat tua atau hitam yang terjadi secara alami yang ada di kulit manusia (dan juga hewan.
Saat ini terdapat sembilan pembawa gen albino di kampung Ciburuy, dari balita sampai orang dewasa. Ada Jajang Gunawan (3), Dewi Resmana (13), Lukman Hakim (4), Heri Agustin (15), Rosanah (17), Firman (40), Isur Suryana (41), dan Emak Entar (60). Warga sekitar menyebut mereka 'Walanda Sunda' alias orang Sunda yang kulitnya putih mirip pendatang dari Belanda pada masa kolonial dahulu. Mereka mengklaim sudah berada di Kampung Ciburuy selama 149 generasi. "Keluarga saya terkenal memiliki gen putih," kata Suryana, selaku juru kunci rumah adat Ciburuy, saat sebelumnya (https://news.detik.com/abc-australia/d-3986448/kisah-walanda-sunda-di-kampung-albino-ciburuy)
Sayangya, akibat kondisi pigmen yang unik, warga albino di Ciburuy mengalami diskriminasi. Keluarga mereka, yang tidak punya warna kulit serupa, turut mengalami diskriminasi. Rosanah salah satu korbannya. Dia memutuskan berhenti sekolah lantaran diganggu teman-teman sekelas akibat kulitnya yang seperti bule. "Saya sering diejek di sekolah. Saya suka kesal," ujarnya. Lebih buruk lagi, Rosanah mengaku tidak berani menikah, karena takut anaknya akan mewarisi gen albino sepertinya.
Cinta Kasih
https://heathersham.com/surrey-engagement-photos/)
Comments
Post a Comment